
BERTAHUN lamanya primata ini tak terlihat, menyusul pembabatan hutan bakau di sepanjang pesisir Sei Pakning, Kecamatan Bukit Batu, kabupaten Bengkalis.
Pembabatan pohon bakau tersebut, semata-mata untuk memenuhi kebutuhan batang untuk menjadi 'cerocok' kerap disebut kayu untuk pondasi bangunan rumah atau toko, serta pembuatan arang kayu.
Dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran Simpai Hitam yang termasuk hewan yang dilindungi atau termasuk Apendix II, mengisyaratkan jika hutan mangrove di Pangkalan Jambi ini telah sanggup menyediakan makanan bagi mereka.
Tentunya kabar gembira ini membuat, masyarakat Pangkalan Jambi yang dulunya tergusur dari tanah kelahirannya, akibat habisnya hutan bakau. smakin optimis jka perjuangan mereka merawat mangrove ini terus menunjukkan progras yang positif.
Hutan mangrove di kawasan ini sempat rusak, hingga abrasi menghantam dan warga pun harus pindah. Namun saat ini, kawasan kembali menjelma menjadi hutan sebagai pelindung dari hantaman ombak, sekaligus menjadi sumber ekonomi bagi warga setempat.
Selain Simpai Hitam, di Kawasan Mangrove Pangkalan Jambi juga menjadi rumah bagi Jipasan belang yang dilindungi, karena masyarakat sempat menemukannya di sini, disamping tempat hidup dua jenis mamalia.
Menurut Alpan, tokoh masyarakat Pangkalan Jambi, terdapat 25 jenis burung dari 14 famili, dan burung Layang-layang batu tercatat menjadi burung yang paling dominan, serta cinenen belukar.
“Mungkin karena ekosistem makin membaik. Jangankan flora, fauna juga nambah. Sekarang muncul simpai hitam. Sebelumnya gak pernah kelihatan. Berang-berang muncul, apalagi monyet,” kata Agustiawan, Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI Kilang Dumai.
Tak Mudah
Kepada RiauBerjaya.Com Alpan yang juga penggerak konservasi hutan mangrove ini mengatakan, jika dirinya dan sejumlah warga masyarakat yang peduli harus jatuh bangun untuk mengembalikan tanaman mangrove di kawasan ini
"Tak mudah mengembalikan pohon bakau dan api-api dengan keterbatasan pengetahuan yang mereka miliki. Tanam 1.000 paling hanya tumbuh 100 pohon," kenangnya Ketika memulai perjuangannya pada tahun 2004.
Bermula pada 2004, kelompok Nelayan Harapan Bersama merehabilitasi pohon mangrove yang ditebang secara liar. Tiap pulang melaut atau saat libur cari ikan, mereka gotong royong tanam pohon ala kadarnya, karena belum mengenal teknik penanaman yang baik.
Kerusakan mangrove kala itu memperparah abrasi di pesisir desa. Daratan kian terkikis mencapai 1oo meter lebih. Masyarakat nelayan berangsur-angsur pindah mencari pemukiman baru yang jauh dari hantaman gelombang laut.
Jadi, hutan mangrove kini tumbuh kembali, dulu bekas pemukiman nelayan. Masih ada beberapa peninggalan gubuk kayu masyarakat di tepi suak, tempat tambatan sampan nelayan.
“Kawasan ini sempat gundul. Jalan depan kita ini, jalur asal Pangkalan Jambi. Sudah tiga turunan,” cerita Alpan.
Bagi Alpan, tak mudah mengembalikan pohon bakau dan api-api dengan keterbatasan pengetahuan yang mereka miliki. Tanam 1.000 paling hanya tumbuh 100 pohon. Belum lagi menghadapi penebangan liar oleh masyarakat sekitar maupun dari luar.
Atensi Kilang Pertamina
Pada 2017, kegigihan Alpan dan nelayan Pangkalan Jambi terbantu dengan pendampingan PT Pertamina RU II Sungai Pakning. Lewat program tanggung jawab sosial, perusahaan datangkan akademisi dari Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro untuk kajian.
Intinya, nelayan diarahkan membangun penahan ombak agar tingkat keberhasilan penanaman mangrove lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.
Ia terbuat dari belahan kayu nibung yang ditancapkan ke dalam lumpur, dengan menyisakan ketinggian dua meter di atas permukaan. Bentuk segi tiga dan membenteng daratan sepanjang 150 meter yang ditambahi dengan jaring.
Model hybrid engineering itu bukan yang pertama. Awalnya, cuma bentuk pagar kayu. Karena kurang kuat, diganti dengan nibung campur ranting pohon. Bentuknya juga menyerupai pagar tetapi tak tahan lama. Sampai akhirnya beralih seperti model saat ini dan bertahan sudah lebih dua tahun.
Metode itu cukup berhasil menahan lumpur, dari situ barulah ditanam api-api dan bakau. Tiap tahun ada pengawasan dan evalusai untuk lihat perkembangan tanaman. Kalau dilihat dari awal tanam sampai tumbuh, keberhasilan mungkin di atas 80%.
Setelah pemulihan mangrove menampakkan hasil, kini Kelompok Nelayan Harapan Bersama mulai memperkuat pengawasan. Tiap-tiap kuala sungai dan pinggir pantai dipasang papan informasi larangan penebangan pohon.
Menurut Alpan, masyarakat Pangkalan Jambi kini sudah melek hukum. Mereka tak susah payah lagi menyosialisasikan ancaman pidana yang akan menyandung penebang liar. Bahkan, terbantu karena masyarakat turut menegur orang-orang luar yang ingin merusak mangrove di desa mereka.
“Dulu, masyarakat di sini yang menebang. Sekarang mereka yang melarang. Ada kesepakatan berkat kita beri pengarahan tentang kegunaan mangrove. Pelan-pelan masuknya. Alhamdulillah mengerti dan sadar lingkungan,” kata Alpan.
Sumber Ekonomi
Setelah hutan mangrove memang telah kembali rimbun, selain mejadi obyek wisata. Saat ini usaha lain pun terbentuk, antara lain, pengolahan makanan dari hasil laut. Sumber-sumber ekonomi masyarakat pun bertumbuh.
Ujung Jalan Nelayan, Desa Pangkalan Jambi, Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis, Riau, kini hijau dengan hutan mangrove rapat. Ada jembatan kayu yang bisa membawa pengunjung meliuk-liuk di tengah lebatnya hutan bakau dan api-api.
Di beberapa lokasi ada saung-saung kecil. Ada menara yang bisa dipanjat untuk melihat sebaran pohon penahan abrasi itu. Luas sekitar 18,9 hektar. Ini satu-satunya wisata alam di Pangkalan Jambi dengan nama Mangrove Education Center (MEC). Khusus wisata ini seluas tiga hektar.
Alpan, nelayan juga tokoh masyarakat yang giat merehabilitasi mangrove, sempat khawatir dengan membludaknya penikmat wisata hutan dengan nama latin rhizophora ini karena fasilitas belum sempat dirawat.
“Was-was juga. Alhamdulillah aman. Pemerintah desa juga sudah mulai perhatikan kegiatan ini. Mereka juga mau buat wahana permainan yang ramah bagi anak-anak,” katanya belum lama ini.
Hutan mangrove itu terhampar dari perbatasan Desa Lubuk Muda sampai Desa Dompas. Dalam laporan Tim HSSE Pertamina RU II Sungai Pakning 2020, terdapat 22 jenis mangrove di Pangkalan Jambi. Semula cuma tujuh.
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 106/2018, jenis mangrove memang tidak dilindungi tetapi rata-rata dalam status berisiko rendah dan tidak terevaluasi menurut daftar IUCN dan CITES.
Yuki Chandra
Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat Rabu, 28 Januari 2026 | 13:35:00 WIB |
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan. Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB |
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum Selasa, 27 Januari 2026 | 11:58:49 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI Jumat, 23 Januari 2026 | 16:00:00 WIB |
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh Senin, 19 Januari 2026 | 06:11:00 WIB |
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB |
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:31:52 WIB |
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:36:26 WIB |
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Apresiasi Sinergi dan Pastikan Energi Tetap Mengalir Kamis, 15 Januari 2026 | 20:09:21 WIB |
Kebersamaan Warga RW 06 Air Putih, Kebahagiaan Tersendiri Bagi Afriani dan Aulia Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:50:47 WIB |
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB |
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa Sabtu, 20 Desember 2025 | 09:05:00 WIB |
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru Senin, 1 Desember 2025 | 13:25:00 WIB |
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru Terima Kunjungan Satpolairud Polres Pelalawan Rabu, 22 Oktober 2025 | 06:05:55 WIB |
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi? Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:56:59 WIB |
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih Kamis, 8 Januari 2026 | 09:45:58 WIB |
Booth UMKM Lokal Binaan Kilang Pertamina Dumai Bukukan Penjualan Hampir Rp 70 Juta Selasa, 6 Januari 2026 | 11:56:00 WIB |
Optimal Jaga Ketahanan Energi Selama Periode Nataru 2026, Kilang Pertamina Dumai Terima Kunjungan Anggota Komite BPH Migas Senin, 5 Januari 2026 | 07:59:00 WIB |
MWT Malam Tahun Baru, Kilang Pertamina Dumai Pastikan Kilang Beroperasi Optimal untuk Jaga Ketersediaan Energi Kamis, 1 Januari 2026 | 14:46:00 WIB |
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa Sabtu, 20 Desember 2025 | 09:05:00 WIB |
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau Senin, 15 Desember 2025 | 08:50:20 WIB |
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal Selasa, 2 Desember 2025 | 11:40:04 WIB |
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru Senin, 1 Desember 2025 | 13:25:00 WIB |
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI Kamis, 20 November 2025 | 11:00:47 WIB |
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau Senin, 3 November 2025 | 13:31:11 WIB |
Anggota DPR RI Karmila Sari Usul Dana BOSDA Biayai Cabor di Sekolah dan Penataan Aset PON Riau Rabu, 1 Oktober 2025 | 10:34:39 WIB |
Parisman Ihwan Mulai Goyah, Dua Statement Berbeda di Dua Media Selasa, 5 Agustus 2025 | 11:20:40 WIB |
Kader PDIP Solid Dukung Pemerintahan Prabowo Perintah Megawati Jumat, 1 Agustus 2025 | 15:43:16 WIB |
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum Selasa, 27 Januari 2026 | 11:58:49 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI Jumat, 23 Januari 2026 | 16:00:00 WIB |
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh Senin, 19 Januari 2026 | 06:11:00 WIB |
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:36:26 WIB |
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:31:52 WIB |
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih Kamis, 8 Januari 2026 | 09:45:58 WIB |
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal Selasa, 2 Desember 2025 | 11:40:04 WIB |
Gubernur LIRA Minta Semua Pihak Menghormati Proses Hukum Yang Dijalani Abdul Wahid Rabu, 12 November 2025 | 12:39:47 WIB |
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI Kamis, 20 November 2025 | 11:00:47 WIB |
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB |
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR Jumat, 17 Oktober 2025 | 19:06:54 WIB |
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin Kamis, 21 Agustus 2025 | 10:45:44 WIB |
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin Kamis, 21 Agustus 2025 | 10:45:44 WIB |
16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya Rabu, 6 Desember 2023 | 10:26:13 WIB |
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas Senin, 4 Desember 2023 | 09:44:39 WIB |
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB |
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau Senin, 15 Desember 2025 | 08:50:20 WIB |
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain Selasa, 14 Oktober 2025 | 16:57:00 WIB |
PSPS Akan DIlatih Caretaker, Sampai Pengganti Ilham Datang Rabu, 1 Oktober 2025 | 09:23:01 WIB |
Didukung Anggota DPR RI Karmila Sari, Festival Pacu Sampan Tradisional di Rumbai Jadi Wisata dan Ekonomi Daerah Senin, 29 September 2025 | 15:46:39 WIB |

BERTAHUN lamanya primata ini tak terlihat, menyusul pembabatan hutan bakau di sepanjang pesisir Sei Pakning, Kecamatan Bukit Batu, kabupaten Bengkalis.
Pembabatan pohon bakau tersebut, semata-mata untuk memenuhi kebutuhan batang untuk menjadi 'cerocok' kerap disebut kayu untuk pondasi bangunan rumah atau toko, serta pembuatan arang kayu.
Dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran Simpai Hitam yang termasuk hewan yang dilindungi atau termasuk Apendix II, mengisyaratkan jika hutan mangrove di Pangkalan Jambi ini telah sanggup menyediakan makanan bagi mereka.
Tentunya kabar gembira ini membuat, masyarakat Pangkalan Jambi yang dulunya tergusur dari tanah kelahirannya, akibat habisnya hutan bakau. smakin optimis jka perjuangan mereka merawat mangrove ini terus menunjukkan progras yang positif.
Hutan mangrove di kawasan ini sempat rusak, hingga abrasi menghantam dan warga pun harus pindah. Namun saat ini, kawasan kembali menjelma menjadi hutan sebagai pelindung dari hantaman ombak, sekaligus menjadi sumber ekonomi bagi warga setempat.
Selain Simpai Hitam, di Kawasan Mangrove Pangkalan Jambi juga menjadi rumah bagi Jipasan belang yang dilindungi, karena masyarakat sempat menemukannya di sini, disamping tempat hidup dua jenis mamalia.
Menurut Alpan, tokoh masyarakat Pangkalan Jambi, terdapat 25 jenis burung dari 14 famili, dan burung Layang-layang batu tercatat menjadi burung yang paling dominan, serta cinenen belukar.
“Mungkin karena ekosistem makin membaik. Jangankan flora, fauna juga nambah. Sekarang muncul simpai hitam. Sebelumnya gak pernah kelihatan. Berang-berang muncul, apalagi monyet,” kata Agustiawan, Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI Kilang Dumai.
Tak Mudah
Kepada RiauBerjaya.Com Alpan yang juga penggerak konservasi hutan mangrove ini mengatakan, jika dirinya dan sejumlah warga masyarakat yang peduli harus jatuh bangun untuk mengembalikan tanaman mangrove di kawasan ini
"Tak mudah mengembalikan pohon bakau dan api-api dengan keterbatasan pengetahuan yang mereka miliki. Tanam 1.000 paling hanya tumbuh 100 pohon," kenangnya Ketika memulai perjuangannya pada tahun 2004.
Bermula pada 2004, kelompok Nelayan Harapan Bersama merehabilitasi pohon mangrove yang ditebang secara liar. Tiap pulang melaut atau saat libur cari ikan, mereka gotong royong tanam pohon ala kadarnya, karena belum mengenal teknik penanaman yang baik.
Kerusakan mangrove kala itu memperparah abrasi di pesisir desa. Daratan kian terkikis mencapai 1oo meter lebih. Masyarakat nelayan berangsur-angsur pindah mencari pemukiman baru yang jauh dari hantaman gelombang laut.
Jadi, hutan mangrove kini tumbuh kembali, dulu bekas pemukiman nelayan. Masih ada beberapa peninggalan gubuk kayu masyarakat di tepi suak, tempat tambatan sampan nelayan.
“Kawasan ini sempat gundul. Jalan depan kita ini, jalur asal Pangkalan Jambi. Sudah tiga turunan,” cerita Alpan.
Bagi Alpan, tak mudah mengembalikan pohon bakau dan api-api dengan keterbatasan pengetahuan yang mereka miliki. Tanam 1.000 paling hanya tumbuh 100 pohon. Belum lagi menghadapi penebangan liar oleh masyarakat sekitar maupun dari luar.
Atensi Kilang Pertamina
Pada 2017, kegigihan Alpan dan nelayan Pangkalan Jambi terbantu dengan pendampingan PT Pertamina RU II Sungai Pakning. Lewat program tanggung jawab sosial, perusahaan datangkan akademisi dari Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro untuk kajian.
Intinya, nelayan diarahkan membangun penahan ombak agar tingkat keberhasilan penanaman mangrove lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.
Ia terbuat dari belahan kayu nibung yang ditancapkan ke dalam lumpur, dengan menyisakan ketinggian dua meter di atas permukaan. Bentuk segi tiga dan membenteng daratan sepanjang 150 meter yang ditambahi dengan jaring.
Model hybrid engineering itu bukan yang pertama. Awalnya, cuma bentuk pagar kayu. Karena kurang kuat, diganti dengan nibung campur ranting pohon. Bentuknya juga menyerupai pagar tetapi tak tahan lama. Sampai akhirnya beralih seperti model saat ini dan bertahan sudah lebih dua tahun.
Metode itu cukup berhasil menahan lumpur, dari situ barulah ditanam api-api dan bakau. Tiap tahun ada pengawasan dan evalusai untuk lihat perkembangan tanaman. Kalau dilihat dari awal tanam sampai tumbuh, keberhasilan mungkin di atas 80%.
Setelah pemulihan mangrove menampakkan hasil, kini Kelompok Nelayan Harapan Bersama mulai memperkuat pengawasan. Tiap-tiap kuala sungai dan pinggir pantai dipasang papan informasi larangan penebangan pohon.
Menurut Alpan, masyarakat Pangkalan Jambi kini sudah melek hukum. Mereka tak susah payah lagi menyosialisasikan ancaman pidana yang akan menyandung penebang liar. Bahkan, terbantu karena masyarakat turut menegur orang-orang luar yang ingin merusak mangrove di desa mereka.
“Dulu, masyarakat di sini yang menebang. Sekarang mereka yang melarang. Ada kesepakatan berkat kita beri pengarahan tentang kegunaan mangrove. Pelan-pelan masuknya. Alhamdulillah mengerti dan sadar lingkungan,” kata Alpan.
Sumber Ekonomi
Setelah hutan mangrove memang telah kembali rimbun, selain mejadi obyek wisata. Saat ini usaha lain pun terbentuk, antara lain, pengolahan makanan dari hasil laut. Sumber-sumber ekonomi masyarakat pun bertumbuh.
Ujung Jalan Nelayan, Desa Pangkalan Jambi, Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis, Riau, kini hijau dengan hutan mangrove rapat. Ada jembatan kayu yang bisa membawa pengunjung meliuk-liuk di tengah lebatnya hutan bakau dan api-api.
Di beberapa lokasi ada saung-saung kecil. Ada menara yang bisa dipanjat untuk melihat sebaran pohon penahan abrasi itu. Luas sekitar 18,9 hektar. Ini satu-satunya wisata alam di Pangkalan Jambi dengan nama Mangrove Education Center (MEC). Khusus wisata ini seluas tiga hektar.
Alpan, nelayan juga tokoh masyarakat yang giat merehabilitasi mangrove, sempat khawatir dengan membludaknya penikmat wisata hutan dengan nama latin rhizophora ini karena fasilitas belum sempat dirawat.
“Was-was juga. Alhamdulillah aman. Pemerintah desa juga sudah mulai perhatikan kegiatan ini. Mereka juga mau buat wahana permainan yang ramah bagi anak-anak,” katanya belum lama ini.
Hutan mangrove itu terhampar dari perbatasan Desa Lubuk Muda sampai Desa Dompas. Dalam laporan Tim HSSE Pertamina RU II Sungai Pakning 2020, terdapat 22 jenis mangrove di Pangkalan Jambi. Semula cuma tujuh.
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 106/2018, jenis mangrove memang tidak dilindungi tetapi rata-rata dalam status berisiko rendah dan tidak terevaluasi menurut daftar IUCN dan CITES.
Yuki Chandra
Anggota Komisi X DPR RI Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, menegaskan dukungannya terhadap program.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pertamina Patra Niaga Sumbagut dalam.
Secara umum, pasokan BBM di provinsi tersebut dalam keadaan aman dan untuk wilayah terdampak,.
| Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat | Rapat Paripurna Pelantikan Pimpinan DPRD Kota Pekanbaru Periode 2024-2029 |