7 Jumadil Awwal 1448 H | Senin, 19 Oktober 2026
☰
×
Pacu Jalur Bukan Sekadar Perlombaan: Nasehat Untuk Yang Datang dan Anak Negeri Kuantan
opini | Selasa, 1 September 2026 | 07:37:31 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Mardianto Manan

 KASUS penghinaan terhadap Ustad Darwis yang kini berbuntut persoalan hukum hendaknya jangan lagi dilihat semata-mata sebagai pertengkaran antara seseorang dengan seorang lainnya.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang dipertaruhkan: marwah budaya Pacu Jalur dan cara kita sebagai masyarakat Kuantan menyikapi orang yang datang ke negeri kita.

Kepada Polres Kuansing, saya menyampaikan satu saran sederhana: tegakkan hukum dengan kepala dingin, tetapi pahami pula konteks budaya yang melatarbelakangi persoalan.

Jangan sampai perkara ini berhenti pada siapa yang menghina dan siapa yang tersinggung. Lihat pula mengapa masyarakat Kuantan bereaksi keras. Karena bagi masyarakat Kuantan Singingi, Pacu Jalur bukan sekadar perahu panjang yang diperlombakan di sungai.

Pacu Jalur adalah warisan leluhur.
Di dalamnya ada gotong royong, harga diri kampung, adat, agama, sejarah, dan kebanggaan anak negeri. Jalur bukan benda mati. Ia memiliki nilai simbolik yang sangat tinggi bagi masyarakat.

Karena itu, siapa pun yang datang ke Kuantan, apalagi hadir dalam suasana Pacu Jalur, seyogianya memahami satu hal:
Anda datang bukan hanya ke sebuah arena perlombaan. Anda datang ke tengah-tengah masyarakat yang sedang menjaga warisan leluhurnya.

Kepada Yang Datang ke Kuantan

Ada ungkapan yang sangat sederhana dalam adat Melayu:
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Pepatah ini bukan hanya untuk dibaca di buku adat.
Ia adalah etika kehidupan.

Kalau datang ke Kuantan, hormatilah adat Kuantan. Hormati masyarakatnya. Hormati ulama, ninik mamak, tokoh masyarakat dan seluruh orang yang berada di dalam lingkungan kebudayaan Pacu Jalur.

Tidak perlu menjadi orang Kuantan untuk mencintai Pacu Jalur. Tetapi kalau ingin ikut menikmati kemeriahannya, jangan mencederai nilai yang dijunjung masyarakatnya.

Kebebasan berekspresi tetap ada, tetapi kebebasan itu bukan tiket untuk merendahkan martabat orang lain ataupun menghina simbol budaya masyarakat setempat.

Dan kepada siapa pun yang menjadi tamu, ingatlah satu lagi pesan orang tua-tua:
“Datang nampak muka, pulang nampak punggung.”
Artinya, setiap kedatangan harus meninggalkan kesan yang baik.
Jangan datang membawa popularitas, kemudian pulang meninggalkan luka dan culas.

Kepada Anak Negeri Kuantan

Tetapi nasihat ini juga berlaku kepada kita, anak negeri. Jangan karena merasa budaya kita dihina, lalu kita ikut kehilangan adab.

Marwah tidak dijaga dengan kemarahan yang tidak terkendali. Marwah dijaga dengan ketegasan yang beradab.

Kalau ada penghinaan, laporkan. Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, serahkan kepada aparat penegak hukum. Kalau ada persoalan adat, selesaikan melalui tokoh adat dan musyawarah.

Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan. Jangan membalas kata-kata dengan kekerasan.

Sebab kalau kita ingin orang luar menghormati budaya Kuantan, maka kita sendiri harus menjadi contoh bagaimana budaya itu mengajarkan penghormatan, kesabaran dan marwah.

Orang tua-tua dahulu mengajarkan:
“Bulat air kerana pembetung, bulat kata kerana mufakat.”
Maka mari kita kembali kepada mufakat.

Pacu Jalur Harua Menjadi Ruang Persaudaraan

Saya kira kasus Ustad Darwis harus menjadi pelajaran bersama. Pacu Jalur jangan berubah menjadi panggung saling mencaci.
Jangan pula media sosial menjadi gelanggang untuk memperbesar api.

Justru momentum ini harus kita jadikan kesempatan untuk menjelaskan kepada seluruh Indonesia bahwa Pacu Jalur memiliki peradaban budaya yang tinggi.

Orang boleh datang dari mana saja.
Orang boleh berbeda suku, daerah, bahasa dan latar belakang.
Tetapi ketika berada di Tepian Narosa dan menyaksikan jalur berpacu, semuanya seharusnya belajar satu hal:
menghormati kebudayaan orang lain.

Kepada aparat penegak hukum, saya berharap perkara ini ditangani secara profesional, objektif, proporsional dan transparan. Jangan karena tekanan massa, jangan pula karena popularitas seseorang.

Periksa fakta. Dengarkan semua pihak. Lihat konteks kejadian. Berikan ruang mediasi apabila memang secara hukum dan kepentingan para pihak masih memungkinkan.

Namun apabila terdapat unsur pidana yang terpenuhi, tegakkan hukum sebagaimana mestinya. Hukum harus berdiri di tengah. Adat memberi arah. Masyarakat memberi pengawasan. Dan semua pihak harus menahan diri.

Kuantan Bukan Negeri yang Mencari Musuh

Kuantan adalah negeri yang menerima orang datang. Kita tidak ingin orang pulang dari Kuantan dengan membawa cerita tentang kemarahan.

Kita ingin mereka pulang membawa cerita tentang keramahan, kebesaran budaya dan ketinggian budi masyarakat Kuantan.

Karena sesungguhnya ukuran tingginya sebuah budaya bukan hanya pada seberapa megah pertunjukannya, tetapi pada seberapa tinggi adab manusia yang menjalaninya.

Pacu Jalur boleh bergemuruh.
Gendang boleh ditabuh.
Dayung boleh dihentakkan.
Teriakan tepian boleh membahana.
Tetapi hati tetap harus teduh.
Sebab jalur boleh berpacu di sungai, tetapi jangan sampai marwah berpacu menuju permusuhan.

Kepada yang datang ke Kuantan:
Hormati rumah kami. Hormati adat kami. Hormati ulama kami. Hormati budaya kami.
Kepada kami anak negeri:

Hormati pula tamu kami. Jangan kehilangan adat hanya karena merasa adat kita sedang diuji.

Itulah barangkali nasihat paling sederhana:
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung; di mana adat dipakai, di situ marwah dijaga.”

Dan kepada semua pihak dalam perkara Ustad Darwis: biarlah hukum mencari keadilan, adat menjaga marwah, dan masyarakat menjaga persaudaraan.
Sebab Pacu Jalur bukan hanya milik Kuantan Singingi.

Ia adalah kekayaan budaya yang harus kita rawat bersama. Jangan karena satu konten, rusak hubungan sesama anak bangsa. Jangan karena satu penghinaan, hilang pula penghormatan.

Dan jangan karena emosi sesaat, kita lupa bahwa marwah Kuantan justru terletak pada kemampuan anak negerinya menegakkan kebenaran tanpa kehilangan adat dan adab.***

Oleh: Mardianto Manan Dt. Rajolelo Bangun

Index
CERI Desak Kejagung Telusuri Joseph Oetomo dan Sukanto Tanoto Dalam Korupsi Toba Pulp
Car Free Daya Ditiadakan, Pelaku UMKM Tetap Berjualan, Pemprov Riau Fasilitasi Warga Senam Saat Udara Tidak Sehat
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Keandalan Operasional di Riau, Wakil Direktur Utama Tinjau Fuel Terminal Sei Siak
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Bagikan 2.200 Masker, Dukung Kesehatan Masyarakat di Tengah Kabut Asap Medan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan Kabinda Sumut Perkuat Sinergi Jaga Kelancaran Distribusi Energi
Bukan Hanya Pesawat yang Siaga, Dedikasi Personel Lanud RSN Jadi Kekuatan Satgas Udara Karhutla
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Lakukan Optimalisasi Distribusi BBM di Kota Padang
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Tanggap Darurat Bencana, Salurkan Bantuan Masyarakat Terdampak Bencana Banjir di Aceh Tamiang
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Kampung Tua Terih, Dorong Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Laut
Pertamina Patra Niaga Perkuat Kolaborasi Lintas Kelembagaan Jaga Distribusi BBM di Riau
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Selada Penggoda Dapur MBG, Cerita Kegigihan Jemari Sepuluh Perempuan Rejosari
JMSI Riau Akan Gelar UKW 4-6 November 2026, Buruan Daftar Tempat Terbatas
DPW BKPRMI Riau Serukan Kader di Daerah Bersiap Sambut Road to Kabupaten/Kota dan Musda
Jambore BKPRMI Riau 2026 Resmi Dibuka, Mengusung Visi Dari Masjid Menggerakkan Ekonomi Ummat
Index
Riau Zero Titik Api, Lanud Roesmin Nurjadin Bagikan Masker untuk Cegah Dampak Kabut Asap
Pertamina Patra Niaga Gerak Cepat, Kembali Salurkan Bantuan Masyarakat Terdampak Bencana Banjir Bandang di Kota Padang
Besok! Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II
Patroli Udara Lanud Roesmin Nurjadin Temukan Satu Titik Api di Inhu, Helikopter Langsung Dikerahkan untuk Pemadaman
Patra Niaga Sumbagut Laksanakan Optimalisasi Distribusi dan Perkuat Ketersediaan BBM di Riau
Hadapi Kabut Asap, Kalambangja Lanud Roesmin Nurjadin Ajak Personel dan Masyarakat Jaga Kesehatan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan Pemprov Riau Pererat Kolaborasi untuk Pelayanan Energi Masyarakat
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan Kejati Riau Perkuat Sinergi Jaga Keandalan Distribusi Energi
Cegah Dampak Kabut Asap, Lanud Roesmin Nurjadin Bagikan Masker kepada Warga
Pemantauan Awan Potensial Terus Dilakukan, Satgas Udara Lanud RSN Harapkan Hujan Redakan Asap
Politik
Jaring Aspirasi Warga RW 11, Hamdani Diminta Perjuangkan Pencegahan Banjir di Jalan Puyuh Mas
Remaja Bernegara NasDem 2026 Dibuka, Latih Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda 
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Keandalan Operasional di Riau, Wakil Direktur Utama Tinjau Fuel Terminal Sei Siak
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Bagikan 2.200 Masker, Dukung Kesehatan Masyarakat di Tengah Kabut Asap Medan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan Kabinda Sumut Perkuat Sinergi Jaga Kelancaran Distribusi Energi
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Lakukan Optimalisasi Distribusi BBM di Kota Padang
Hukum
CERI Desak Kejagung Telusuri Joseph Oetomo dan Sukanto Tanoto Dalam Korupsi Toba Pulp
Harapan LIRA Kepada Kapolda Riau, Jangan Jadikan Hukum Sebagai Alat Mempermalukan Rakyat Riau
Marwas: Suruh Aja Orang Agrinas Tu Panggil CV Tiga Bintang Sinergi
Ketika di Klarifikasi, Pimpinan BRI Yang Bersangkutan Justru Telah Dimutasi ke Wilayah Lain
Nasional
Car Free Daya Ditiadakan, Pelaku UMKM Tetap Berjualan, Pemprov Riau Fasilitasi Warga Senam Saat Udara Tidak Sehat
Bukan Hanya Pesawat yang Siaga, Dedikasi Personel Lanud RSN Jadi Kekuatan Satgas Udara Karhutla
Riau Zero Titik Api, Lanud Roesmin Nurjadin Bagikan Masker untuk Cegah Dampak Kabut Asap
Patroli Udara Lanud Roesmin Nurjadin Temukan Satu Titik Api di Inhu, Helikopter Langsung Dikerahkan untuk Pemadaman

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Batalkan Musorprov, KONI Pusat Perpanjang Masa Jabatan Pengurus KONI Riau hingga September 2026
Tiga Anggota TPP Labrak Aturan dan Arahan KONI Pusat, Fahmi: Tindakan Mereka Ilegal!!!
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
Pacu Jalur Bukan Sekadar Perlombaan: Nasehat Untuk Yang Datang dan Anak Negeri Kuantan
opini | Selasa, 1 September 2026 | 07:37:31 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Mardianto Manan

 KASUS penghinaan terhadap Ustad Darwis yang kini berbuntut persoalan hukum hendaknya jangan lagi dilihat semata-mata sebagai pertengkaran antara seseorang dengan seorang lainnya.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang dipertaruhkan: marwah budaya Pacu Jalur dan cara kita sebagai masyarakat Kuantan menyikapi orang yang datang ke negeri kita.

Kepada Polres Kuansing, saya menyampaikan satu saran sederhana: tegakkan hukum dengan kepala dingin, tetapi pahami pula konteks budaya yang melatarbelakangi persoalan.

Jangan sampai perkara ini berhenti pada siapa yang menghina dan siapa yang tersinggung. Lihat pula mengapa masyarakat Kuantan bereaksi keras. Karena bagi masyarakat Kuantan Singingi, Pacu Jalur bukan sekadar perahu panjang yang diperlombakan di sungai.

Pacu Jalur adalah warisan leluhur.
Di dalamnya ada gotong royong, harga diri kampung, adat, agama, sejarah, dan kebanggaan anak negeri. Jalur bukan benda mati. Ia memiliki nilai simbolik yang sangat tinggi bagi masyarakat.

Karena itu, siapa pun yang datang ke Kuantan, apalagi hadir dalam suasana Pacu Jalur, seyogianya memahami satu hal:
Anda datang bukan hanya ke sebuah arena perlombaan. Anda datang ke tengah-tengah masyarakat yang sedang menjaga warisan leluhurnya.

Kepada Yang Datang ke Kuantan

Ada ungkapan yang sangat sederhana dalam adat Melayu:
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Pepatah ini bukan hanya untuk dibaca di buku adat.
Ia adalah etika kehidupan.

Kalau datang ke Kuantan, hormatilah adat Kuantan. Hormati masyarakatnya. Hormati ulama, ninik mamak, tokoh masyarakat dan seluruh orang yang berada di dalam lingkungan kebudayaan Pacu Jalur.

Tidak perlu menjadi orang Kuantan untuk mencintai Pacu Jalur. Tetapi kalau ingin ikut menikmati kemeriahannya, jangan mencederai nilai yang dijunjung masyarakatnya.

Kebebasan berekspresi tetap ada, tetapi kebebasan itu bukan tiket untuk merendahkan martabat orang lain ataupun menghina simbol budaya masyarakat setempat.

Dan kepada siapa pun yang menjadi tamu, ingatlah satu lagi pesan orang tua-tua:
“Datang nampak muka, pulang nampak punggung.”
Artinya, setiap kedatangan harus meninggalkan kesan yang baik.
Jangan datang membawa popularitas, kemudian pulang meninggalkan luka dan culas.

Kepada Anak Negeri Kuantan

Tetapi nasihat ini juga berlaku kepada kita, anak negeri. Jangan karena merasa budaya kita dihina, lalu kita ikut kehilangan adab.

Marwah tidak dijaga dengan kemarahan yang tidak terkendali. Marwah dijaga dengan ketegasan yang beradab.

Kalau ada penghinaan, laporkan. Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, serahkan kepada aparat penegak hukum. Kalau ada persoalan adat, selesaikan melalui tokoh adat dan musyawarah.

Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan. Jangan membalas kata-kata dengan kekerasan.

Sebab kalau kita ingin orang luar menghormati budaya Kuantan, maka kita sendiri harus menjadi contoh bagaimana budaya itu mengajarkan penghormatan, kesabaran dan marwah.

Orang tua-tua dahulu mengajarkan:
“Bulat air kerana pembetung, bulat kata kerana mufakat.”
Maka mari kita kembali kepada mufakat.

Pacu Jalur Harua Menjadi Ruang Persaudaraan

Saya kira kasus Ustad Darwis harus menjadi pelajaran bersama. Pacu Jalur jangan berubah menjadi panggung saling mencaci.
Jangan pula media sosial menjadi gelanggang untuk memperbesar api.

Justru momentum ini harus kita jadikan kesempatan untuk menjelaskan kepada seluruh Indonesia bahwa Pacu Jalur memiliki peradaban budaya yang tinggi.

Orang boleh datang dari mana saja.
Orang boleh berbeda suku, daerah, bahasa dan latar belakang.
Tetapi ketika berada di Tepian Narosa dan menyaksikan jalur berpacu, semuanya seharusnya belajar satu hal:
menghormati kebudayaan orang lain.

Kepada aparat penegak hukum, saya berharap perkara ini ditangani secara profesional, objektif, proporsional dan transparan. Jangan karena tekanan massa, jangan pula karena popularitas seseorang.

Periksa fakta. Dengarkan semua pihak. Lihat konteks kejadian. Berikan ruang mediasi apabila memang secara hukum dan kepentingan para pihak masih memungkinkan.

Namun apabila terdapat unsur pidana yang terpenuhi, tegakkan hukum sebagaimana mestinya. Hukum harus berdiri di tengah. Adat memberi arah. Masyarakat memberi pengawasan. Dan semua pihak harus menahan diri.

Kuantan Bukan Negeri yang Mencari Musuh

Kuantan adalah negeri yang menerima orang datang. Kita tidak ingin orang pulang dari Kuantan dengan membawa cerita tentang kemarahan.

Kita ingin mereka pulang membawa cerita tentang keramahan, kebesaran budaya dan ketinggian budi masyarakat Kuantan.

Karena sesungguhnya ukuran tingginya sebuah budaya bukan hanya pada seberapa megah pertunjukannya, tetapi pada seberapa tinggi adab manusia yang menjalaninya.

Pacu Jalur boleh bergemuruh.
Gendang boleh ditabuh.
Dayung boleh dihentakkan.
Teriakan tepian boleh membahana.
Tetapi hati tetap harus teduh.
Sebab jalur boleh berpacu di sungai, tetapi jangan sampai marwah berpacu menuju permusuhan.

Kepada yang datang ke Kuantan:
Hormati rumah kami. Hormati adat kami. Hormati ulama kami. Hormati budaya kami.
Kepada kami anak negeri:

Hormati pula tamu kami. Jangan kehilangan adat hanya karena merasa adat kita sedang diuji.

Itulah barangkali nasihat paling sederhana:
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung; di mana adat dipakai, di situ marwah dijaga.”

Dan kepada semua pihak dalam perkara Ustad Darwis: biarlah hukum mencari keadilan, adat menjaga marwah, dan masyarakat menjaga persaudaraan.
Sebab Pacu Jalur bukan hanya milik Kuantan Singingi.

Ia adalah kekayaan budaya yang harus kita rawat bersama. Jangan karena satu konten, rusak hubungan sesama anak bangsa. Jangan karena satu penghinaan, hilang pula penghormatan.

Dan jangan karena emosi sesaat, kita lupa bahwa marwah Kuantan justru terletak pada kemampuan anak negerinya menegakkan kebenaran tanpa kehilangan adat dan adab.***

Oleh: Mardianto Manan Dt. Rajolelo Bangun

TERKINI
“CERI mendesak Kejagung mengusut sampai ke penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner/UBO)..
Minggu, 18 Oktober 2026 | 09:52:06 WIB

Niat Pemerintah Kota Pekanbaru untuk mencegah warganya untuk tidak beraktifitas di luar ruangan.

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:39:51 WIB
Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) terus memperkuat keandalan.
Jumat, 16 Oktober 2026 | 17:31:48 WIB
Sebagai bentuk kepedulian tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyalurkan bantuan.
Jumat, 16 Oktober 2026 | 17:20:16 WIB
pertemuan antara Executive General Manager (EGM) Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fanda.
Jumat, 16 Oktober 2026 | 11:29:18 WIB